Langsung ke konten utama

KISAH CINTA SEORANG BANDAR BOKEP

Hai semua, namaku Muhammad Charles Bram atau lebih dikenal dengan Bram. Aku adalah seorang bandar bokep disebuah gank yang dihormati di Kota Yogyakarta ini. Aku akan menceritakan pengalaman serba pertama aku. Pertama kali jatuh cinta, pertama kali PDKT sama cewek dan pertama kali dibenci sama cewek. Tanpa panjang lebar lagi, langsung aja ku mulai ceritanya.
Waktu itu aku hanyalah seorang bocah kelas 5 SD disalah satu sekolah ternama yang berada di kota Yogyakarata. Aku adalah seorang pribadi yang polos tidak bodoh dan tidak pintar, namun keren!. Aku juga belum mengenal apa yang namanya jatuh cinta, tapi aku sudah mengenal mana cewek yang cantik lagi seksi dan mana cewek yang jelek. Suatu hari saat aku berjalan menuju koperasi sekolahku, aku tidak sengaja menabrak salah seorang cewek. Aku langsung melongo saat memandangi wajah sesosok cewe yang aku tabrak tadi, dan itu adalah adek kelasku. Karena aku ini anak yang gentleman! Aku langsung meminta maaf ke cewek yang aku tabrak tadi “Aduuuh.. sori eh” lalu aku melanjutkan ke koperasi. Saat berjalan, aku hanya berani memandanginya dan berbicara tentang dia dengan Digo. Digo itu adalah sahabatku. Hari demi hari berlalu dengan ada upaya untuk PDKT sama cewek yang yang kutabrak kemarin. Saat aku sedang memikirkan cewek itu, tiba-tiba Digo berkata kepadaku, “Bram, kalau kamu suka sama dia coba deh kenalan sama dia, dari pada kaya gini terus cuma bisa ngiliat dari jauh, sedangkan dia juga gak kenal sama kamu”. Aku tersadar dan berpikir, benar juga kata Digo, kalau begini terus dia gak akan kenal sama aku dan aku juga gak akan tau perasaan dia ke aku itu sama atau nggak. Karena memang aku tertarik sama dia, aku Mulai belajar untuk PDKT. Setelah ku rasa mentalku sudah siap, aku coba untuk dekati dia yang sedang jalan dengan temannya di halaman sekolah. Lalu aku langsung dekati dia dan coba untuk kenalan, walau aku masih ragu-ragu groginya minta ampun tapi tetap aku coba untuk kenalan dengan dia. Tanpa pikir panjang aku langsung menyapanya “Hai kamu” sambil mengarahkan tanganku ke dia untuk berjabat tangan. Terus dia melihat aku dengan senyuman dan bilang “Apaan sih!” terus pergi bersama temannya itu. Spontan aku kaget dan malu banget, terus lari entah kemana sampai salah masuk kelas sekolah, yang disana lagi ada ulangan praktek, untung gurunya gak sempet liat aku, jadi gak sempet di tanya-tanya sama guru. Terus aku langsung aja keluar, tapi tetap malu soalnya ada banyak juga yang ngeliat aku tadi.Walau gagal kenalan, tapi aku terus mencari namanya dan akhirnya aku tau dari teman sekelasnya, namanya Nayla. Besoknya aku berencana untuk ngikutin dia pulang dan sekalian mau tau dimana rumahnya.
Bel pulang sudah tiba “TENG… TENG… TENG…” Dengan susah payah aku merayu Digo untuk menemaniku membuntuti Nayla dan temannya “Ayolah Digo temenin aku” “Ah! Tapi aku laper” jawab Digo. “Iyadeh bakso belakang sekolah” “Nah gitu dong, aku jadi semangat kan! Hehe”. Aku dan Digo sudah stand by di pos satpam depan sekolah.  Setelah Nayla dengan temannya berjalan agak jauh dari kami, kami mulai ngikutin dia. Sekian lama kami berjalan mengikutinya dan akhirnya kami sampai di sebuah rumah. Ternyata rumah itu bukan rumahnya Nayla tetapi rumah temannya yang jalan bersamanya. Karena dia gak langsung kerumahnya, kemudian kami terpaksa nunggu dia dikejauhan yang ditutupi pohon pisang. Sudah sekian lama menunggu, bukannya Nayla yang keluar malah teriakan yang keluar dari rumah itu, “WOY ngapain ngintipin rumah ini? Mau maling ya?” gajelas itu suara siapa, yang jelas suara bapak-bapak, langsung aja kami kabur kalang kabut secepat cheetah, untungnya gak ada yang ngejar.Walau misiku gagal lagi hari itu, tapi besoknya aku coba lagi untuk ngikutin dia pulang. Walau dia belum tau kalau aku ngikutin dia terus, bahkan hampir setiap hari aku ngikutin dia terus sampai akhirnya aku tau rumahnya.Setelah aku tau rumahnya, aku berencana untuk ngikutin dia secara terang-terangan gak ngumpet-ngumpet lagi. TENG… TENG… TENG… “Alhamdulillah bel sudah berbunyi”gumamku dalam hati, kali ini aku sendiri menunggu Nayla didepan pintu gerbang sekolah untuk menjalankan rencanaku. Setelah bel berbunyi, Nayla lantas pergi ke kantin sekolah untuk makan saing. “Aduuuuh…Nayla kenapa lama banget? Akukan dah gasabar untuk tau rumah dia” Gerutu ku didalam hati. Setelah sekitar 20 menitan, Nayla keluar dari sekolah lewat gerbang sekolah menuju halte bus. Saat bus datang, Nayla masuk ke dalam. Tanpa pikir panjang aku juga ikut naik bus yang sama dan duduk di dekatnya. Setelah busnya sudah berjalan aku ngomong ke dia "Aku ke rumahmu ya?" terus dia jawab dengan ekspresi bingung "Nngapain ke rumah ku?" aku jawab lagi "Mau kenalan sama calon mertua! Uuuups…" “Haaaaa?” dia menjawab dengan ekspresi badmood. “Aaa maksutku aku mau main aja ke rumahmu” Lalu aku bingung mau ngomong apa lagi, karena saking groginya berada didekatnya (maklum baru kali ini bandar bokep jatuh cinta). Selagi aku berfikir mau ngobrolin tentang apa ke dia, tiba-tiba dia suruh supir bus untuk berhentiin busnya “Bang bang… stop bang!”, padahal belum sampe rumahnya malah masih agak jauh dari rumahnya. Kemudian dia turun dan aku juga ikut turun mengikutinya, dia mulai berjalan dan bertanya lagi ke aku sambil malu-malu dan agak BT, "ngapain sih ngkutin terus?" terus aku jawab "kan dah aku bilang aku mau main ke rumahmu". Akhirnya dia jalan lagi terus bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, sampe berulang-ulang. Terus aku di ajak muter-muter gang sama dia, mungkin saking gak maunya dia ajak aku kerumahnya dan gak mau sampai aku tau rumahnya. Padahal aku sih dah tau rumahnya dimana.Sudah lama muter-muter gang dan aku tetep setia ngikutin dia, karena mungkin dia dah capek aku ikutin terus dan akhirnya dia lari biar aku gak bisa ngikutin dia terus. Aku coba kejar dia tapi gak ketemu malah kehilangan jejak karena saking cepetnya dia lari dan saking banyaknya gang-gang kecil. Langsung aja aku ke rumahnya, ternyata dia udah ada di area dekat rumahnya sama teman-temannya. Lalu aku deketin dia, kemudian dia ngomong ke aku dengan nada yang ramah dan agak merayu sambil tersenyum "Jangan ke rumah ya, di rumahku lagi ada pengajian" lalu aku jawab "pengajian? oke deh besok-besok aja lagi aku ke rumahmu kalau dah gak ada pengajian. Ya udah aku pulang dulu ya? bye" “Syukurlaah! Buruan sana pergi bye” usir Nayla dengan nada marah . Habis itu aku langsung pulang dengan hati yang berbunga-bunga karena udah bisa melihat senyumannya dan ngobrol sama dia walau hanya sedikit.
Besoknya di sekolah aku tegur dia, tapi dia gak ada respon sama sekali, terus pura-pura gak dengar. Habis itu aku dekati dia dan bertanya "Kamu marah sama aku ya?" dia jawab "Ngapain sih!!!" terus pergi. Aku bingung, perasaan kemarin dia gak kaya gini sikapnya ke aku. Walau dia marah sama aku, tetep aja aku ngikutin dia terus kalau dia pulang bahkan pas berangkat sekolah juga udah aku tungguin didepan gang rumahnya. Setelah itu aku merasa kalau dia semakin hari semakin jutek banget sama aku bahkan sampe ngatain aku gak gentle lah terus apa lagi ya? banyak dah pokoknya. Mungkin dia ngatain aku gak gentle karena aku gak berani dekatin dia sendirian di sekolah, selalu aja bawa temen. Tapi anehnya aku gak bisa marah sama dia. Pernah aku pura-pura marah ke dia. Aku dekati dia lalu bertanya "maksud kamu apa ngatain aku gak gentle sama temenku?" terus dia gak jawab pertanyaan aku malah tambah ngejekin aku dan langsung lari ngumpet ke toilet cewe, terus aku malah marah-marahnya sama temannya yang ada disitu juga. Aku pikir-pikir lagi, kenapa dia ngumpet ya? padahal kalau dia itu benci dan marah sama aku pasti dia bakalan ngehadepin aku dan berani ngomong. Setelah pulang sekolah dan sampai dirumah aku diberi tau oleh ibuku, kalau ayahku akan pindah kerja ke Australia, kemudian aku sekeluarga juga disuruh ikut kesana. Spontan aku kaget banget dan merasa belum siap meninggalkan Kota Yogyakarta yang indah nan nyaman ini dan yang paling utama, aku merasa masih belum mendapat jawaban cintaku dari Nayla, walaupun sekarang dia benci sama aku. Beberapa hari sebelum aku pergi ke Pangkalanbun, aku buat surat untuk dia yang isinya tentang permohonan maaf, pemberitahuan kalau aku akan pindah ke Australia dan aku minta jawaban cinta dia dan foto dia. Karena aku malu dan takut kalau suratku gak diterima maka dari itu aku suruh temanku untuk kasih surat ini ke dia. Ternyata bukannya di baca suratnya malah disobek dan dibuang ke tempat sampah. Walau kecewa berat, tapi tetep aku terima dengan lapang dada.Tidak lama kemudian aku tau kalau dia dah punya pacar. Mungkin karena ini sikapnya berubah jutek sama aku. Setelah tau kalau Nayla udah punya pacar, hatiku bener-bener hancur berkeping-keping tetapi gak tau kenapa, keyakinanku begitu besar kalau dia itu juga cinta sama aku. Setelah itu aku berhenti untuk mengikuti dia pulang, tetapi aku tetep berusaha untuk selalu dekat dengan dia dengan cara mencari nomor hpnya. Karena tidak lama lagi aku akan pergi ke Australia. Pasti ada pertanyaan dari pembaca yang kaya gini, “Kenapa gak dari dulu nyari nomor hpnya?” aku jawab “aku baru dibeliin hp sama orang tuaku.” Kembali ke cerita. Karena gak mungkin aku minta nomor hpnya Nayla langsung keorangnya, maka aku minta nomor hpnya itu sama teman dekatnya yang bernama Munaroh. Ternyata dia tidak tau nomor hpnya Naylai, tapi dia mau untuk bantuin aku tuk nyari nomor hpnya Nayla.
 Sesampainya aku di kota Australia, aku selalu smsan dengan Munaroh dan selalu menceritakan keadaan Nayla. Akhirnya aku dapat juga nomor hpnya Nayla dari Munaroh, setelah ku cek nomor hp yang dikasih dari Munaroh itu, ternyata nomor nya itu bukan nomor nya Nayla. Lalu ku tanya “Mun, kenapa nomor yang kamu kasih itu salah sambung?” dia jawab “Sorry deh, ternyata itu nomor Nayla tetangga baruku.” Setelah itu aku masih tetap menunggu informasi dari Munaroh. Satu minggu berlalu dengan hasil 0. Saat tiba hari yang ke 8, Munaroh sms ke aku dan memberi nomor hpnya Nayla yang disertai perkataan yang membuat aku kaget darinya “Bram, sebenernya aku suka dan cinta sama kamu, tapi perasaan ku ini tidak sama dengan perasaanku dan ternyata kamu lebih mencintai Nayla. Awalnya aku gak mau ngasih nomor hpnya Nayla ke kamu, tapi sepertinya kamu bener-bener membutuhkannya. Ini nomor hpnya Nayla yang asli 08567605076” Setelah membaca sms darinya, aku coba menelpon dia untuk meminta maaf dan berterima kasih, tapi nomor nya sudah tidak aktif lagi. Setelah mendapat nomor hpnya Nayla, tanpa memikirkan kalau dia sudah punya pacar, aku langsung sms dan telpon dia, yang awalnya sih gak disambut dengan baik, setiap angkat telepon dari aku dia cuma ngomong ya atau nggak bahkan kalau aku telepon, terkadang gak diangkat sama dia dan kalau aku sms dia, gak pernah ada balasan darinya. Kemudian dia sempat ganti nomor hpnya dan aku benar-benar putus hubungan dengannya.
Lebih dari 1 tahun, aku dengan Nayla putus kontak dan tidak saling berhubungan lagi, tiba-tiba hpku berbunyi tanda sms masuk, ternyata setelah ku liat nomor nya ini nomor dari Indonesia dan isi smsnya “Hai, apa kabar? Masih kenal gak sama aku?” tanpa membalas smsnya aku langsung menelponnya dan bertanya, “Hai juga, maaf ini siapa ya?” langsung ku tebak “Ini Nayla ya?” kemudian dia jawab, “Iya!!!” mulai dari situ sikapnya dah mulai berubah sedikit demi sedikit. Sekarang kalau ku tanya pasti dia jawab yg bener gak cuma ngomong ya atau nggak doang, bahkan kita saling tanya jawab. Yang membuat aku kaget dan semakin yakin kalau dia juga cinta sama aku, dia pernah ngomong sama aku, "Sebenarnya aku kaget banget pas baca surat dari kamu, kalau kamu pergi ke Australia" terus aku tanya ke dia, "Tapikan suratnya dah kamu sobek dan dibuang di tempat sampah?" dia jawab "Sebenarnya ambil ambil surat yang udah aku sobek itu di tempat sampah terus aku baca, kamunya aja yang gak tau kalau surat kamu aku baca." Dia juga pernah bertanya ke aku, “Kapan kamu balik ke Jogja?” pertanyaan itu selalu di ulang-ulang setiap aku telepon dia. Sekedar pemberitahuan saat itu Nayla sudah putus dengan pacarnya. Setelah 4 tahun lebih aku tinggal dan bersekolah di Australia, akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku Yogyakarta untuk melanjutkan SMP disana. Tidak hanya untuk melanjutkan SMP saja, tetapi aku ingin bertemu dengan cinta pertamaku yang beberapa tahun ini hanya bisa mendengar suaranya saja di telepon.Dengan membawa cinderamata khas Australia pesanan dari Nayla, aku kerumahnya. Walau grogi dan rasa gak percaya diri itu masih ada, aku tetap mengetuk pintu rumahnya. Tiba-tiba terbukalah pintu rumahnya itu dan munculah seseorang wanita muda berkerudung yang membukakan pintunya itu. Dengan rasa yang campur aduk, dari rasa grogi, bingung, ragu dan senang. Aku mulai berfikir, apakah dia Nayla yang aku kenal sejak kelas 5 SD itu atau bukan? Kemudian aku tanya ke dia, “Ini Nayla ya?” kemudian dia jawab, “Iya, emang siapa lagi?” setelah itu aku shock berat, karena akhirnya aku bisa bertemu dengan Nayla lagi dan melihat wajahnya yang berubah menjadi lebih lebih lebih cantik dari 4 tahun yang lalu. Kemudian kami mulai ngobrol dan sembari itu aku kasih dia cinderamata yang dia pesan selagi aku masih di Australia.
Hari demi hari berlalu, hubungan aku dengan Nayla semakin dekat. Aku mulai memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku yang terpendam selama ini. “Nay,  sebenarnya perasaan aku gak pernah berubah sama kamu, rasa cinta aku ke kamu masih utuh dari pertama kali kita bertemu hingga sekarang. Nay, apakah kamu mencintaiku?” kemudian Nayla menjawab, “Bram, semenjak kamu minta kenalan sama aku, aku itu udah ada perasaan cinta ke kamu, tapi karena 2 sebab aku berusaha tuk jauhin kamu. Yang pertama, aku ini udah punya pacar dan aku gak mau nyakitin perasaannya. Yang kedua, kamu kenalkan sama Munaroh? Dia itu temen deket aku dan dia itu suka sama kamu, jadi aku gak mau nyakitin hati temen aku.” Kembali aku bertanya, “Apa sekarang kamu masih ada rasa cinta ke aku? Dan apakah kamu mau jadi pacar aku?” kemudian dia jawab, “Malahan, sekarang aku tambah cinta sama kamu dan aku bersedia jadi pacar kamu” Sekian lama aku menanti-nanti moment seperti ini dan akhirnya terjadi juga. Setelah itu, aku dan Nayla hubungannya semakin baik dan membaik. Ternyata tidak sia-sia aku bersabar dan meyakini bertahun-tahun bahwa Nayla juga mencintaiku, akhirnya kesabaran dan keyakinan itu tidak salah dan benar terjadi. Karena cinta yang abadi itu lebih dari sekedar ungkapan bukan mainan perasaan tetapi anugerah dari Tuhan. 

                                                                                              - MR. TOSA HELL -

Komentar